Belajar Taat Dari Permen



     Di suatu tempat Aku dan Diki adikku sedang terduduk. Menikmati bakso dari seorang pedagang bakso langganan kami. Sebenarnya kami sudah makan siang, hanya sekedar mengisi perut sedikit sekaligus menikmati suasana hari yang sudah mulai sore.

     "A hijab itu apa? Kenapa perempuan harus menggunakan hijab?" Tiba-tiba Adikku melontarkan pertanyaan itu kepadaku. Mungkin Diki terlalu sering mendengar tentang hijab di televisi, maka dia pun penasaran sehingga bertanya kepadaku.



     Aku belum mengangkat pembicaraan untuk menjawab. Aku masih mengunyah bakso yang masih ada di dalam mulutku. Setelah selesai mengunyah, aku menatap Diki, lantas menghela napas ringan. "Tunggu sebentar."

     Aku mengambil sehelai tissu, mengusap mulut dan sekitarnya, kemudian berdiri. Melangkah menuju warung dekat kami, hendak membeli sesuatu.

     Tidak lama, satu menit aku sudah keluar dari warung. Membawa dua bungkus permen genggam di tangan. Aku lihat Diki hanya menatap kosong kepadaku. Bingung kenapa aku tidak menjawab pertanyaannya, justru aku berdiri dan pergi ke warung untuk membeli permen.

     Aku berdiri mendekati Diki. Aku buka bungkus dari salah satu permen yang aku beli. Kemudian aku jatuhkan kedua permen itu ke tanah di dekat Diki.

     Aku lihat Diki semakin bingung. Hanya terperangah heran. Matanya terbuka lebar, mulutnya ternganga besar. Pandangannya sangat serius melihat permen itu dijatuhkan.

     "Dari kedua permen itu, mana yang mau Diki ambil?"

     Diki pun mengangkat kepalanya, menatapku. Wajahnya memang terlihat sangat serius. Diki pun kembali melihat kedua permen itu, hendak mengambilnya. Diki ulurkan tangan kanannya untuk mengambil kedua permen itu.

     Aku kaget. Kali ini justru aku yang menatapnya serius. Terperangah heran. "Kenapa diambil dua-duanya?"

     Diki letakkan yang masih dibungkus ke atas meja. Yang sudah terbuka dan sedikit kotor masih digenggamnya. "Sayang a, belum lima menit." Diki membuka penutup air mineral botolnya, lantas mengguyur permen itu sampai bersih dari pasir yang menempel.

     Aku menghela napas berat. Badanku menjadi lemas melihat kelakuan Diki. Aku pun duduk kembali ke kursiku, hendak menghabiskan bakso yang tadi sejenak aku tinggalkan. Aku masih menatap menyeringai kepada Diki yang sedang sibuk membersihkan permen tersebut. Suara gemercik air yang jatuh membuat Aku semakin menyeringai. Maksud Aku tadi kan agar Diki memilih salah satu di antaranya, bukan kedua. Yang dengan pilihan itulah kemudian Aku dapat memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan Diki. Ternyata semua di luar dugaan. Diki menggagalkan rencanaku.

     Menelan ludah, kemudian Aku meminum sedikit air mineral. “Tadinya Aa mau jelasin sesuatu kalaupun Diki hanya mengambil salah satu permennya. Tapi, ya sudahlah, tidak apa-apa, Aa akan tetap menjelaskannya.” Menghela napas berat. Kali ini Diki sudah selesai membersihkan permennya, lantas memasukkannya ke dalam mulut. Memutuskan menyimak penjelasanku sembari menikmati manisnya permen tadi.

     “Sebenarnya tadi salah Aa. Terlalu tanggung menjelaskan. Seharusnya Diki hanya boleh mengambil salah satu di antaranya. Tapi, ya sudahlah.” Menghela napas ringan. “Secara masuk akal, seseorang akan mengambil permen yang masih dibungkus. Permen itu masih terjaga bersih dari kotoran tanah, dan permen itu masih layak dikonsumsi. Berbeda dengan permen yang sudah tidak terbungkus. Pasir dan mungkin bakteri sudah melekat di permukaan permen tersebut. Akhirnya permen tidak layak dikonsumsi.”

     “Begitulah maksud hijab dalam Islam. Hendak menjaga para perempuan muslimah dari kotoran dunia, fitnah dunia, dan mata para lelaki bukan mahram yang tentunya tidak layak mengkonsumsi. Dosa hukumnya jika seorang perempuan muslimah yang sudah mencapai masa baligh terlihat auratnya, terkecuali wajah dan telapak tangan. Itulah yang Rasulullah shalallahu’alayhi wa salam telah katakan kepada perempuan-perempuan muslimah. Dan itu jugalah yang bisa Diki lihat sendiri di manapun. Perempuan-perempuan muslimah yang taat kepada Allah dan senantiasa menjaga sunnah Rasulullah pasti menjaga dan menutup auratnya dengan sebuah hijab.”

     “Hijab itulah yang akan senantiasa menjaga kesucian perempuan muslimah, yang bahkan Rasulullah katakan bahwa perempuan muslimah itu sebaik-baiknya perhiasan dunia. Seperti permen tadi saja. Permen yang terbungkus akan selalu terjaga kebersihannya walaupun terjatuh ke tanah yang kotor. Bungkusnya itulah yang menjaganya dari kontak langsung dengan kotoran tanah. Begitu, Ki.” Menghela napas ringan.

     Diki mencabut permen yang sedang dilumatinya dari mulut, hendak berkata sesuatu. “Tapi, A, permen yang sudah tidak terbungkus tadi kan walaupun sudah terjatuh ke tanah, selama belum lama dan tanahnya tidak terlalu kotor, sekiranya masih bisa dibersihkan dan kemudian dikonsumsi lagi?” Wajah Diki menyeringai kepadaku. Mencoba menjebakku.

     Aku menghela napas berat. “Iya sih, Diki benar. Selama belum terlalu lama dan jatuhnya tidak ditempat yang sangat kotor, maka masih bisa dibersihkan untuk kemudian dikonsumsi dengan layak. Seperti itu juga seorang perempuan muslimah. Selama nyawa masih ada di jasadnya, selama akal masih melengkapi nalurinya, dan selama hati masih lapang untuk menerima kebenaran, insya Allah, masih bisa bertaubat. Sebagai bentuk pembersihan diri dari kotoran seperti permen yang kotor tadi.”

     “Dan Diki juga benar tentang mengambil kedua permen tersebut. Karena bagaimanapun juga, selama masih hidup setiap orang masih mempunyai kesempatan untuk membersihkan diri, sebelum semuanya sudah terlambat. Seperti permen tadi. Selama tanahnya tidak terlalu kotor, dan jatuhnya pun belum terlalu lama sehingga belum terlambat sebelum mungkin terkena kotoran lain atau kadaluarsa, permen itu masih dapat dibersihkan dan layak dikonsumsi.”

     Aku mengacungkan ibu jari kepada Diki. “Diki benar. Justru Diki telah menambah-luaskan pemikiran Aa tentang hijab. Hebat juga kamu, Ki.”


     Diki tidak menjawab pertanyaanku. Diki justru kembali memasukkan permen ke dalam mulutnya dengan berlaga seperti jagoan neon. Wajahnya pun menyeringai sombong, dengan salah satu alismatanya dinaikkan. Ah! Banyak gaya sekali ini anak kecil. Baru segitu saja sudah sombong.

Kontributor: Irfan Arrosid
Twitter/Instagram kontributor: @irfan_arrosid

0 komentar:

Posting Komentar